Cukup Allah Sebagai Penolongmu by Dr. Derysmono, Lc., S.Pd.I., M.A

*Cukup Allah sebagai Penolongmu*

By Derysmono

Kadang kala dalam mengajak umat kepada kebaikan kita bisa bersama-sama, ada banyak orang membantu, Sama-sama berdakwah dan berdakwah bersama-sama, tapi tidak jarang dalam dakwah sendirian. Tiada yang menemani.

Saat Rasulullah SAW berdakwah pertama kali pun tak ada yang menemani, hanya sang istri khodijah yang terus memotivasi,

Beliau berkata kepada Nabi, “Kalla! Wallahi laa yukhziikallahu abadan. Innaka latshila ar-rahima wa tahmilal-kulla wa taksiba al-ma’duma wa tuqri ad-dhaifa fatu’inu ala nawa-iba al-haqqi,”. Yang artinya, “Tidak! Demi Allah, Dia sekali-kali tidak mencemooh engkau. Bagaimana mungkin Dia mencemoohkan, padahal engkau bersilaturahim, engkau memikul beban yang lemah, membantu yang tidak berpunya, menjamu tamu, dan menolong siapa yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.”

Nabi kita berdakwah dari satu rumah ke rumah lain, dari pintu ke pintu yang lain, belum ada yang menemani sampai datang lah para sahabat yang menemani beliau.

Nabi Nuh Alaihissalam sendiri siang dan malam berdakwah, menyeru umat menuju jalan selamat, beratus tahun lamanya dakwah hanya sedikit yang beriman.

Nabi Yusuf Alaihissalam harus masuk keluar penjara dalam berdakwah, pun sendiri, jauh dari keluarga dan sanak, saudara sendiri jadi duri dalam daging, dapat majikan, bukan membela namun malah menjerumuskan ke penjara. Nabi Yunus pun sendirian, tidak ada yang mau menerimanya, tak ada yang mendengar.

Meski tidak diragukan keutamaan berjama’ah dalam berdakwah, tapi bukan berarti kita menunggu orang kumpul baru mulai dakwah, tapi tetap saja kita mulai, Mudah-mudahan Allah memberi jalan kita dengan ditemani para “hawariyyin” Mereka yang membersamai dakwah.

Saat sendiri, keluh kesah mu sampaikan kepada Allah, karena dialah Dzat yang memenangkan semua ikhtiar dakwah. Kita hanya wasilah.

Jika ada yang mengatakan,
“Saya sudah tidak semangat lagi berdakwah, karena guru saya sudah wafat, tiada lagi panutan dan guru dalam dakwah”
Jujur saya akan jawab, “jika memang demikian justru engkaulah yang harus jadi guru, jadikan diri penyemangat untuk menjadi teladan umat”.

Jika ada yang mengatakan ” Aku tidak ada berdakwah lagi, karena aku tidak dihormati ” Jujur saya akan menjawab, “maaf jalan dakwah bukan ditaburi intan permata, bukan pula sambutan dan senyuman, tapi penuh onak dan duri, cacian dan hinaan, bukan jalan dakwah bila kita harus disanjung dan dielu-elukan”.

Jika ada yang mengatakan, ” Maaf dakwah di sini gak disupport dan didukung, saya mau dakwah di tempat lain saja”. Maaf secara jujur saya kata, “Nabi SAW dakwah ke thoif dilempari hingga berdarah, Nabi saw dakwah di Makkah dikatakan dan diejek sebagai penyihir dan orang gila, Nabi saw dakwah di Madinah, sering dihina dan diejek orang munafiqun, padahal jika Nabi saw mau, beliau angkat tangannya, lalu berdoa, agar menghabisi semua lawan dakwahnya, lalu selesai. Tapi Nabi saw tidak melakukan, karena sesungguhnya dialah Allah sebagai sebaik-baik Penolong dan yang menemani.

Jika kalau semua pintu tertutup untuk menemani dakwah, jika semua hati tak lagi simpati dan empati dalam dakwah, jika semua uluran tangan, kini tak menolong dakwah.

Cukup Allah sebagai Penolongmu, Jika semua orang pergi meninggalkan dakwah ini, hanya kita sendirian, maka biarkan Allah membersamai kita dalam memenang dakwah ini. Jangan biarkan dan tinggalkan umat sendirian.

Hasbunallahu Wani’mal wakil Ni’mal Maula WA Ni’mannashir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *